Guspedia.com. Praktik Kerja Lapangan (PKL) menjadi bagian penting dalam pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Melalui PKL, murid memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari di sekolah dalam situasi kerja yang nyata.
Selain itu, murid juga belajar mengenal budaya kerja, disiplin, tanggung jawab, komunikasi profesional, keselamatan kerja, serta tuntutan kompetensi yang berlaku di dunia usaha dan dunia industri.
Meskipun sedang melaksanakan PKL, murid kelas XII tetap memiliki hak untuk memperoleh layanan pembelajaran. Proses belajar tidak seharusnya berhenti hanya karena murid berada di tempat kerja.
Salah satu bentuk dukungan yang dapat diterapkan adalah pembelajaran secara asinkron, yaitu pembelajaran yang dapat diakses dan dikerjakan murid secara mandiri pada waktu yang disesuaikan dengan kondisi serta jadwal PKL.
Pembelajaran asinkron menjadi semakin penting karena literasi dan numerasi merupakan kemampuan dasar yang diperlukan dalam pendidikan, kehidupan sehari-hari, maupun dunia kerja.

Kedua kemampuan tersebut juga mendukung kesiapan murid dalam mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan menghadapi berbagai bentuk asesmen.
Literasi dan Numerasi bagi Murid SMK
Literasi merupakan kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan menyampaikan informasi. Dalam kegiatan PKL, kemampuan literasi diperlukan ketika murid membaca prosedur kerja, memahami petunjuk penggunaan alat, menafsirkan informasi teknis, menyusun laporan, mengisi formulir, serta berkomunikasi dengan pembimbing dan rekan kerja.
Literasi juga mencakup kemampuan membaca secara kritis. Murid perlu mampu membedakan informasi penting dan informasi tambahan, memahami hubungan sebab-akibat, menarik kesimpulan, serta menilai ketepatan suatu informasi. Kemampuan ini penting agar murid dapat bekerja secara cermat dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar.
Sementara itu, numerasi merupakan kemampuan menggunakan konsep dan penalaran matematika untuk menyelesaikan masalah dalam berbagai konteks. Numerasi sangat dekat dengan kegiatan kerja.
Murid dapat menggunakan numerasi ketika menghitung kebutuhan bahan, menentukan ukuran, membaca tabel, memahami grafik, menghitung waktu pengerjaan, memperkirakan biaya, menghitung persentase, dan membandingkan hasil pekerjaan.
Dengan demikian, penguatan literasi dan numerasi tidak hanya bertujuan meningkatkan hasil belajar mata pelajaran tertentu. Penguatan tersebut juga membentuk kemampuan berpikir, memecahkan masalah, berkomunikasi, dan bekerja secara efektif.
Kondisi yang Mendorong Perlunya Dukungan Pembelajaran
Surat Edaran Direktur Sekolah Menengah Kejuruan Nomor 4021/B/D2/DV.00.01/2026 menyampaikan bahwa hasil TKA SMK Tahun 2025 menunjukkan kompetensi murid masih perlu diperkuat.
Rerata capaian murid pada mata pelajaran Matematika sebesar 34,84, Bahasa Inggris sebesar 22,69, dan Bahasa Indonesia sebesar 53,68. Data tersebut menunjukkan perlunya dukungan pembelajaran yang dapat diakses secara fleksibel, termasuk ketika murid sedang melaksanakan PKL
Kondisi PKL yang beragam juga menjadi alasan penting bagi penerapan pembelajaran asinkron. Setiap murid dapat memiliki jadwal kerja, lokasi, akses internet, perangkat, dan bentuk pendampingan yang berbeda. Oleh sebab itu, pembelajaran perlu dirancang secara fleksibel dan tidak menggunakan pendekatan yang seragam untuk semua murid.
Pembelajaran asinkron memungkinkan murid mempelajari materi secara bertahap. Murid dapat mengakses video atau bahan bacaan setelah menyelesaikan kegiatan PKL, mengerjakan lembar kerja sesuai batas waktu yang disepakati, dan mengirimkan hasil pekerjaan melalui media yang tersedia.
Pembelajaran Asinkron sebagai Solusi yang Fleksibel
Pembelajaran asinkron bukan berarti murid belajar tanpa arahan. Guru tetap berperan dalam merencanakan tujuan pembelajaran, menyediakan sumber belajar, memberikan instruksi, memantau hasil belajar, dan memberikan umpan balik.
Di dalam pelaksanaannya, guru dapat menyediakan video pembelajaran, modul ringkas, lembar kerja, kuis, tugas pemecahan masalah, serta jurnal refleksi. Materi tersebut dapat diberikan melalui platform pembelajaran, grup komunikasi kelas, atau media lain yang dapat diakses oleh murid.
Pembelajaran asinkron perlu memperhatikan beberapa prinsip utama. Pertama, kegiatan harus disesuaikan dengan jadwal dan beban PKL. Kedua, tugas harus diberikan secara proporsional agar tidak mengganggu pengalaman belajar di dunia kerja.
Ketiga, materi perlu dikaitkan dengan kompetensi kejuruan dan situasi yang mungkin ditemui murid di tempat PKL. Keempat, guru perlu memberikan umpan balik agar murid mengetahui kekuatan dan bagian yang perlu diperbaiki.
Keterkaitan dengan TKA
Tes Kemampuan Akademik atau TKA merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pembelajaran murid kelas XII. Persiapan TKA tidak seharusnya hanya dilakukan melalui latihan soal secara berulang. Persiapan perlu diarahkan pada penguatan pemahaman konsep, penalaran, kemampuan membaca informasi, pengolahan data, dan pemecahan masalah.
Pembelajaran literasi dapat membantu murid memahami teks, menemukan informasi tersurat dan tersirat, menarik kesimpulan, menganalisis hubungan antarparagraf, serta menilai isi bacaan. Pembelajaran numerasi dapat membantu murid memahami data, menggunakan konsep matematika, menafsirkan tabel atau grafik, dan menyelesaikan masalah kontekstual.
Guru mata pelajaran kejuruan juga dapat menghubungkan materi dengan konteks program keahlian. Misalnya, murid bidang teknik dapat diberikan tugas membaca petunjuk teknis dan menghitung kebutuhan material. Murid bidang bisnis dan manajemen dapat menganalisis data penjualan atau menghitung keuntungan.
Murid bidang kesehatan dapat membaca informasi prosedural dan menafsirkan data sederhana. Pendekatan seperti ini membuat persiapan TKA lebih bermakna karena berkaitan dengan pengalaman belajar dan kompetensi kerja murid.
Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan juga menyediakan video bedah kerangka asesmen TKA program keahlian SMK bagi guru mata pelajaran kejuruan. Video tersebut dapat digunakan sebagai rujukan dalam menyusun bahan ajar, lembar kerja, dan asesmen yang selaras dengan kerangka TKA.
Tujuan Pembelajaran Asinkron
Dukungan pembelajaran literasi dan numerasi secara asinkron bertujuan untuk:
1.menjaga keberlangsungan proses belajar murid kelas XII selama melaksanakan PKL;
2.memperkuat kemampuan memahami, mengolah, mengevaluasi, dan menyampaikan informasi;
3.memperkuat kemampuan menggunakan penalaran matematis dalam situasi sehari-hari dan situasi kerja;
4.menghubungkan literasi dan numerasi dengan kompetensi kejuruan serta pengalaman murid di dunia kerja;
5.mempersiapkan murid menghadapi TKA melalui pembelajaran yang bermakna, bertahap, dan kontekstual; dan
6.menyediakan informasi bagi guru mengenai perkembangan belajar murid melalui asesmen formatif dan umpan balik.
Prinsip Pelaksanaan
Pembelajaran asinkron bagi murid yang sedang melaksanakan PKL perlu dilaksanakan berdasarkan prinsip berikut.
|
Prinsip |
Penerapan |
| Fleksibel | Waktu belajar disesuaikan dengan jadwal, beban kegiatan, dan kondisi murid di tempat PKL. |
| Proporsional | Tugas dan asesmen diberikan dalam jumlah yang wajar serta tidak mengganggu tujuan utama PKL. |
| Kontekstual | Materi dikaitkan dengan situasi kehidupan sehari-hari, pekerjaan, dan program keahlian murid. |
| Berkelanjutan | Pembelajaran dilaksanakan secara teratur agar proses belajar tidak terputus selama PKL. |
| Inklusif | Materi dan tugas mempertimbangkan perbedaan akses perangkat, jaringan internet, kemampuan awal, dan lokasi PKL. |
| Berorientasi pada kebutuhan murid | Guru memperhatikan kesiapan, hambatan, minat, serta perkembangan setiap murid. |
| Berbasis umpan balik | Hasil pekerjaan murid ditinjau dan diberi umpan balik sebagai dasar perbaikan belajar. |
Prinsip tersebut menegaskan bahwa pembelajaran asinkron bukanlah penambahan beban akademik semata. Pembelajaran ini merupakan dukungan yang dirancang agar murid tetap belajar secara terarah tanpa kehilangan kesempatan untuk memperoleh pengalaman autentik di dunia kerja.
Sumber Belajar yang Dapat Dimanfaatkan
Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan menyediakan 30 video pembelajaran literasi dan numerasi yang dapat dipelajari secara mandiri oleh murid SMK. Materi tersebut meliputi Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Topik Matematika antara lain himpunan bilangan, eksponen, invers fungsi, barisan geometri, sistem pertidaksamaan dan persamaan linear, transformasi geometri, keliling bangun datar, kaidah pencacahan, serta peluang.
Topik Bahasa Inggris meliputi descriptive text, narrative text, analytical exposition, recount text, dan procedure text. Topik Bahasa Indonesia meliputi membaca eksplisit dan tersirat, menemukan peristiwa utama, menyimpulkan konflik cerita, menulis berita, membaca kritis, menyunting teks, menyusun kerangka cerita, serta memberikan tanggapan terhadap karya sastra.
Sekolah dapat menggunakan video tersebut sebagai salah satu sumber belajar. Guru juga dapat melengkapinya dengan modul ringkas, lembar kerja, kuis digital, rekaman penjelasan, bahan bacaan, contoh kasus dari dunia kerja, dan sumber belajar lain yang sesuai dengan kebutuhan murid.
Tautan playlist video pembelajaran literasi dan numerasi dapat dilihat dan diunduh pada tautan s.id/videolitnumsmk
Integrasi dengan TKA dan Asesmen
1. TKA sebagai salah satu arah penguatan pembelajaran
Tes Kemampuan Akademik atau TKA merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pembelajaran murid kelas XII. Persiapan TKA tidak seharusnya hanya dilakukan melalui latihan soal secara berulang.
Persiapan perlu diarahkan pada penguatan pemahaman konsep, penalaran, kemampuan membaca informasi, pengolahan data, dan pemecahan masalah.
Pembelajaran literasi dapat membantu murid memahami teks, menemukan informasi tersurat dan tersirat, menarik kesimpulan, menganalisis hubungan antarparagraf, serta menilai isi bacaan.
Pembelajaran numerasi dapat membantu murid memahami data, menggunakan konsep matematika, menafsirkan tabel atau grafik, dan menyelesaikan masalah kontekstual.
Guru mata pelajaran kejuruan juga dapat menghubungkan materi dengan konteks program keahlian. Misalnya, murid bidang teknik dapat diberikan tugas membaca petunjuk teknis dan menghitung kebutuhan material.
Murid bidang bisnis dan manajemen dapat menganalisis data penjualan atau menghitung keuntungan. Murid bidang kesehatan dapat membaca informasi prosedural dan menafsirkan data sederhana. Pendekatan seperti ini membuat persiapan TKA lebih bermakna karena berkaitan dengan pengalaman belajar dan kompetensi kerja murid.
Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan juga menyediakan video bedah kerangka asesmen TKA program keahlian SMK bagi guru mata pelajaran kejuruan. Video tersebut dapat digunakan sebagai rujukan dalam menyusun bahan ajar, lembar kerja, dan asesmen yang selaras dengan kerangka TKA.
Baca : Surat Edaran Himbauan Percepatan Pendaftaran TKA SMK Tahun 2026
2. Asesmen formatif sebagai bagian dari proses belajar
Asesmen formatif merupakan bagian penting dalam pembelajaran asinkron. Asesmen ini dilakukan selama proses belajar untuk mengetahui tingkat pemahaman murid, menemukan kesulitan, dan menentukan tindak lanjut pembelajaran.
Bentuk asesmen formatif dapat disesuaikan dengan karakteristik materi. Guru dapat menggunakan pertanyaan singkat, kuis, ringkasan bacaan, lembar kerja, analisis kasus, tugas perhitungan, rekaman penjelasan, atau jurnal refleksi. Asesmen tidak harus selalu berbentuk tes tertulis.
Hasil asesmen formatif digunakan untuk memberikan umpan balik. Umpan balik yang baik tidak hanya menyatakan bahwa jawaban murid benar atau salah. Umpan balik perlu menjelaskan bagian yang sudah dikuasai, kesalahan yang terjadi, alasan kesalahan, serta langkah yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya.
TKA dan asesmen formatif memiliki fungsi yang berbeda. TKA mengukur kemampuan akademik berdasarkan kerangka dan ketentuan yang berlaku. Asesmen formatif membantu guru dan murid memperbaiki proses pembelajaran. Oleh karena itu, latihan TKA tidak boleh menggantikan seluruh kegiatan pembelajaran dan asesmen yang diperlukan untuk mengembangkan kompetensi murid secara utuh.
3. Penyelarasan dengan kerangka asesmen TKA program keahlian
Nota dinas menyediakan dua video bedah kerangka asesmen TKA program keahlian SMK dengan sasaran guru mata pelajaran kejuruan. Video tersebut dapat digunakan oleh guru sebagai rujukan dalam menyusun bahan ajar, lembar kerja, dan asesmen formatif yang selaras dengan kerangka asesmen TKA.
Tautan video bedah kerangka asesmen TKA: Kerangka Asesmen Mata Pelajaran Pilihan Program Keahlian
Penyelarasan tersebut dapat dilakukan melalui langkah berikut:
|
Tahap |
Kegiatan Guru |
| Memahami kerangka | Mempelajari kompetensi, ruang lingkup, karakteristik, dan tuntutan penalaran dalam kerangka asesmen TKA yang relevan. |
| Memetakan kebutuhan | Mengidentifikasi kemampuan awal, kesulitan, dan konteks PKL murid. |
| Menyusun bahan ajar | Mengembangkan materi singkat yang memadukan literasi, numerasi, dan konteks program keahlian. |
| Menyusun tugas | Membuat tugas yang menuntut pemahaman, penerapan, analisis, dan pemecahan masalah. |
| Melaksanakan asesmen formatif | Memberikan asesmen yang dapat dikerjakan secara asinkron dengan petunjuk yang jelas. |
| Memberikan umpan balik | Menjelaskan kekuatan, kesalahan, dan langkah perbaikan yang perlu dilakukan murid. |
| Melakukan tindak lanjut | Memberikan pengayaan, remedial, atau pendampingan sesuai hasil asesmen. |
Contoh Alur Pembelajaran Asinkron
Satu siklus pembelajaran dapat dilaksanakan melalui alur berikut.
1. Orientasi. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, materi yang perlu dipelajari, durasi pengerjaan, cara mengumpulkan tugas, dan kriteria keberhasilan.
2. Eksplorasi materi. Murid mempelajari video atau bahan belajar secara mandiri sesuai waktu yang tersedia.
3. Latihan terarah. Murid mengerjakan lembar kerja yang berisi pertanyaan pemahaman, penerapan, dan penalaran.
4. Kontekstualisasi. Murid menghubungkan materi dengan pengalaman di tempat PKL, tanpa membuka informasi perusahaan yang bersifat rahasia.
5. Asesmen formatif. Murid mengerjakan kuis, tugas analisis, atau masalah kontekstual untuk menunjukkan pemahamannya.
6. Umpan balik dan refleksi. Guru memberikan umpan balik, sedangkan murid menuliskan hal yang telah dikuasai, kesulitan yang dialami, dan rencana perbaikan.
Contoh tugas literasi dapat berupa membaca prosedur kerja, menemukan informasi penting, menjelaskan makna istilah teknis, dan menyusun ringkasan.
Contoh tugas numerasi dapat berupa menghitung kebutuhan bahan, membaca tabel produksi, menganalisis grafik, menentukan persentase pencapaian, atau membandingkan beberapa alternatif berdasarkan data.
Contoh Rancangan Mingguan
| Minggu | Fokus | Aktivitas Murid | Bukti Belajar |
| 1 | Membaca informasi eksplisit dan tersirat | Menonton video, membaca teks, dan menjawab pertanyaan pemahaman | Ringkasan dan jawaban terstruktur |
| 2 | Numerasi dalam konteks kerja | Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan ukuran, waktu, biaya, atau data | Lembar kerja perhitungan dan penjelasan langkah |
| 3 | Bahasa Inggris untuk dunia kerja | Mempelajari procedure text atau descriptive text dan menganalisis contoh | Tugas analisis teks atau penyusunan teks singkat |
| 4 | Penalaran dan refleksi | Mengerjakan asesmen formatif dan merefleksikan pengalaman belajar | Hasil asesmen, umpan balik, dan jurnal refleksi |
Rancangan tersebut dapat disesuaikan dengan durasi PKL, jadwal kerja, akses internet, program keahlian, serta kebutuhan belajar murid. Sekolah tidak perlu menerapkan jadwal yang seragam apabila kondisi tempat PKL berbeda-beda.
Pembagian Peran
Keberhasilan pembelajaran asinkron memerlukan kerja sama berbagai pihak. Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan menyediakan media pembelajaran dan video bedah kerangka asesmen TKA. Dinas Pendidikan menyebarluaskan informasi, mendorong keberlangsungan pembelajaran, serta melakukan pemantauan dan evaluasi. BBPPMPV dan BPPMPV mendukung diseminasi, pendampingan, serta pemantauan sesuai kewenangannya.
MKKS mendukung koordinasi antarsatuan pendidikan dan berbagi praktik baik. MGMP membahas pemanfaatan video, mengembangkan lembar kerja dan asesmen formatif, serta menyusun strategi yang sesuai dengan mata pelajaran dan program keahlian. MKPS mendampingi pengawas dan satuan pendidikan dalam pemantauan kualitas pembelajaran.
Satuan pendidikan bertanggung jawab mengintegrasikan sumber belajar ke dalam perencanaan, menyediakan lembar kerja dan asesmen formatif, memberikan umpan balik, menggunakan media tambahan bila diperlukan, serta berkoordinasi dengan pembimbing sekolah dan pembimbing dunia kerja. Murid bertanggung jawab mengatur waktu belajar, mempelajari materi, mengerjakan tugas dengan jujur, menyampaikan kendala, dan memanfaatkan umpan balik untuk perbaikan.
Pemantauan dan Evaluasi
Pemantauan tidak hanya melihat jumlah tugas yang dikumpulkan. Sekolah perlu memeriksa apakah materi dapat diakses, apakah tugas sesuai dengan kondisi PKL, apakah murid memperoleh umpan balik, dan apakah pembelajaran membantu perkembangan literasi, numerasi, serta kompetensi kejuruan.
Indikator pemantauan dapat meliputi:
- persentase murid yang menerima informasi dan sumber belajar;
- keterjangkauan video, lembar kerja, dan asesmen;
- keterlibatan murid dalam mempelajari materi;
- ketepatan waktu dan kualitas umpan balik guru;
- perkembangan hasil asesmen formatif;
- kesesuaian beban belajar dengan jadwal PKL; dan
- kendala akses, perangkat, jaringan, atau pendampingan yang perlu ditindaklanjuti.
Hasil pemantauan sebaiknya dibahas secara berkala oleh sekolah, guru, pembimbing PKL, dan pihak terkait. Praktik baik dapat dibagikan melalui MGMP atau MKKS, sedangkan kendala yang memerlukan dukungan lebih lanjut dapat disampaikan kepada Dinas Pendidikan atau pihak terkait.
Ketentuan dan Dasar Hukum
Pelaksanaan dukungan pembelajaran ini mengacu pada ketentuan berikut.
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan dan Pengelolaan Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010.
3. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2020 tentang Praktik Kerja Lapangan bagi Peserta Didik.
4. Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 9 Tahun 2025 tentang Tes Kemampuan Akademik;
5. Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 9 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 17 Tahun 2021 tentang Asesmen Nasional;
6. Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 56 Tahun 2026 tentang Pedoman Penyelenggaraan Tes Kemampuan Akademik dan Asesmen Nasional; dan
7. Surat Edaran Direktur Sekolah Menengah Kejuruan Nomor 4021/B/D2/DV.00.01/2026 Tahun 2026 tentang Dukungan Pembelajaran Literasi dan Numerasi secara Asinkron bagi Murid Kelas XII Sekolah Menengah Kejuruan yang Sedang Melaksanakan Praktik Kerja Lapangan.
Di dalam pelaksanaannya, setiap satuan pendidikan perlu memperhatikan ketentuan utama bahwa pembelajaran disesuaikan dengan jadwal PKL, beban belajar, akses sumber belajar, dan kondisi murid.
Pembelajaran harus dilaksanakan secara fleksibel dan proporsional. Kegiatan pembelajaran juga harus mengutamakan kebutuhan murid, penguatan literasi dan numerasi, relevansi dengan kompetensi kejuruan, serta kesiapan mengikuti TKA.***
Sumber : https://smk.kemendikdasmen.go.id/berita/dukungan-pembelajaran-literasi-dan-numerasi-secara-asinkron-bagi-murid-kelas-xii-smk-yang-sedang-melaksanakan-pkl
